Merenung dikala hujan turun...
Merenung akan hal-hal yang disesali walau sebenarnya itu sederhana.
Hujan bagaikan suhu yang dingin untuk meluluhkan hati dikala pemilik hati tersebut sedang pergi mencari di mana sang Matahari.
Tak pernah kita tau bahwa pemilik hati tersebut hanya memasang topeng di depan hujan.
Di mana Sang Matahari? yang selalu berkata bahwa dia akan menyinari dan menghangatkan pemilik hati tersebut?
Di mana?!
Berbicaralah kepada hujan maka hujan akan memberimu kesakitan yang sangat perih dikala kamu menghinanya.
Berbicaralah kepada matahari maka matahari akan memberitahumu kehangatan yang justru membuatmu terlihat munafik di depannya.
Tetes air demi air yang sampai bukankah pertanda bahwa begitu besarnya masalah pemilik hati tersebut?
Maka menangislah pemilik hati tersebut manakala berpadunya air hujan dan air matanya.
Ingin tersenyum tapi apa daya? Pemilik hati tersebut sudah lelah untuk berpura-pura dikala hujan turun.
Matahari pergi...
Kenapa?!
Pergi karna merasa tak pantas untuk menghangatkan hati yang berada dalam jiwa yang gelap.
Sesat akan gelapnya hidup yang bahkan cahaya tak kunjung menerangi hidupnya.
Matahari bahkan menyuruh hujan agar pemilik hati menyadari betapa menyesalnya dia.
Ketika hujan bertanya melalui nada tik tik tiknya, "Apakah kamu senang aku datang?"
Maka pemilik hati tersebut menunduk, "Tidak, aku membutuhkan matahari sekarang,"
Hujan pun marah. "Kenapa kamu membutuhkan matahari? jika kamu hanya memasang beribu wajah di depannya?"
Pemilik hati menatap nanar hujan melalui kaca jendelanya, "Matahari bahkan lebih besar daripada kamu dan kenapa kamu tega melukainya melalui perkataanmu?"
Hujan berhenti. Kini embun di jendela rumah pemilik hati yang berbicara melalui gerak yang intens. "Siapa yang kamu coba bohongi?"
Menangislah pemilik hati, menenggelamkan rasa bahagianya dikala hujan yang tak sampai...
Hujan yang tak sampai untuk membuatnya bahagia seadanya.
Matahari datang, seperti tersenyum cerah karna berhasil menyadarkan pemilik hati tersebut.
Ingin bahagia, tapi bagaimana dengan hati yang sudah terlanjur sedih?
Matahari hanya bisa tersenyum karna hukum alam yang bahkan tak bisa ia hindari bagaikan kapal yang terjebak badai di tengah lautan yang bahkan tak ada batasnya.
Ingin sekali matahari merengkuh pemilik jiwa tersebut manakala hukum alam yang hanya dapat menempatkannya di atmosper yang berbeda dari manusia.
Pemilik hati bahkan mencari hujan yang tak sampai tersebut dikala matahari yang tersenyum di depan jendela rumahnya, tersenyum kelihatannya tapi mengandung tangisan di sana.
Kenapa?!
Matahari menyesal karna membuat pemilik hati membencinya.
Matahari memiliki banyak teman, banyak yang mengetahui namanya namun tak pernah tahu akan dirinya.
Matahari sadar bahwa pemilik hati yang sedang ia terangi di depannya ternyata sedang menangis manakala hati yang hanya bisa merasakan.
Pemilik hati tak ingin bicara karna mulutnya tak pernah merasakan apa yang hatinya rasakan.
Mulut yang selalu mengeluarkan kata yang tajamnya seperti bilah pedang yang mengkilap yang sudah siap meghunus siapa saja yang mendekatinya.
Matahari yang hanya melihat petir kesedihan dalam jiwa pemilik hati tersebut, kini hanya bisa pasrah dan merelakan pemilik hati bersama hujan yang tak kunjung datang.
Matahari dengan cahaya kuningnya memanggil hujan hingga atmosper berubah.
Hujan dengan tetes airnya berkata, "Ada apa lagi denganmu?!"
Pemilik hatipun keluar dari rumahnya ingin merengkuh hujan namun hatinya yang hanya bisa merasakan kehangatan yang berbeda dari hujan.
"Aku membutuhkanmu, hujan. Engkau memang benar." Pemilik hati tersenyum seolah baru saja mendapati jiwa yang terisi dengan bunga-bunga mekar.
Hujan berhenti. Kini digantikan dengan embunnya yang bergerak intens di dedaunan. "Maafkan hujan, tapi hujan adalah sahabat matahari. Tak peduli sejauh manapun hatimu melangkah untuk memohon maaf namun hujan sudah berjanji tak akan pernah meninggalkan sahabatnya. Apakah kamu tak punya sahabat?"
Pemilik hati luruh di lantai menatap langit. "Aku sudah menganggap hujan sebagai sahabatku namun dia pergi."
Embun masih bertanya. "Bagaimana dengan matahari?"
"Dia awalnya sahabatku namun kini menjadi musuhku."
Embun masih setia untuk bertanya. "Kenapa?"
"Entahlah. Hanya hati yang bisa merasakan."
Embun perlahan-lahan mulai mengering. "Maafkan aku, aku harus pergi. Tapi, ingatlah hujan yang tak sampai akan menjadi hujan yang bisa membuatmu menyadari arti kehidupan. Selamat tinggal, pemilik hati."
Pemilik hati menangis. "Kenapa semuanya pergi? Apa aku salah?"
Dikala tak ada lagi yang menjawab, maka datanglah si penulis. "Tidak, kamu tidak salah. Kamu hanya belum berusaha keras untuk mencapai impianmu."
Pemilik hati mendongak. "Maka apa yang harus kulakukan?"
Penulis tersenyum sembari meletakkan pena-nya. "Banyak sekali. Maka berusaha keraslah. Kau tau? kesedihanmu saja membuat hujan yang tak sampai tadi melihatmu, sedangkan matahari? dia bahkan datang untuk melihat keadaanmu. Embun? dia bahkan dengan sukarela untuk sementara hadir menasehatimu. Bukankah itu salah satu tanda bahwa mereka peduli denganmu? Jika kesedihanmu membuat orang memperhatikanmu bagaimana dengan kebahagiaanmu? Masih banyak orang yang peduli denganmu."
Pemilik hati terenyuh dengan kata-kata indah bagaikan penawar bagi hatinya. "Terima kasih, penulis."
Penulis tersenyum. "Kau tau? aku yang menulis cerita ini tapi aku lebih suka jika kamu memanggil namaku."
Pemilik hati bingung. "Jadi, semua ini hanya khayalan?"
Lagi-lagi penulis tersenyum. "Ya. Tapi banyak mengandung hikmah dibaliknya."
Pemilik hati kini menggertakkan giginya. "Kenapa kamu tega membuatku sedih begini?"
"Apa kamu merasakan kemarahan tersebut? Jika iya, maka alasan aku tega membuat cerita ini agar pembacaku tau bahwa masih banyak hal-hal besar yang harus mereka gapai tanpa memikirkan penyesalan-penyesalan terdahulunya ."
Pemilik hati pun bingung. "Jadi, aku tidak boleh menyesali mereka yang pergi meninggalkanku?"
"Ya, karna di masa depan masih banyak orang yang peduli denganmu."
Pemilik hati perlahan-lahan mengerti. "Maka kau beri judul apa kisahku ini?"
"Hujan yang tak sampai..."
"Kenapa?!"
"Karna aku tau kamu selalu merindukan hujan yang tak sampai itukan? seolah-olah menantinya agar hujan itu datang."
Pemilik hatipun tersenyum. "Ya, aku memang merindukan sahabatku itu yang bahkan memilih musuhku sendiri."
Penulis bertanya. "Apakah kamu menyesal?"
"Tidak lagi. Kata-katamu seperti kaset yang berputar di otakku."
"Aku senang mendengarnya, pemilik hati. Bolehkah aku mengakhiri kisahmu sekarang?"
Pemilik hati menggeleng."Aku ingin mengetahui namamu dulu."
Penulis tersenyum. "Perkenalkan, nama aku Jihan Dhiya Ulhaq. Orang yang bahkan memiliki banyak masalah darimu, namun mencoba menghadapinya walau badai yang tak kunjung berhenti untuk menempa diri ini. Selamat tinggal, pemilik hati."
Komentar
Posting Komentar
Syarat berkomentar:
*Berkomentarlah dengan unsur yang tidak mengandung kontroversi
*Berkomentarlah sesuai konten yang dibahas