Merenung dikala hujan turun... Merenung akan hal-hal yang disesali walau sebenarnya itu sederhana. Hujan bagaikan suhu yang dingin untuk meluluhkan hati dikala pemilik hati tersebut sedang pergi mencari di mana sang Matahari. Tak pernah kita tau bahwa pemilik hati tersebut hanya memasang topeng di depan hujan. Di mana Sang Matahari? yang selalu berkata bahwa dia akan menyinari dan menghangatkan pemilik hati tersebut? Di mana?! Berbicaralah kepada hujan maka hujan akan memberimu kesakitan yang sangat perih dikala kamu menghinanya. Berbicaralah kepada matahari maka matahari akan memberitahumu kehangatan yang justru membuatmu terlihat munafik di depannya. Tetes air demi air yang sampai bukankah pertanda bahwa begitu besarnya masalah pemilik hati tersebut? Maka menangislah pemilik hati tersebut manakala berpadunya air hujan dan air matanya. Ingin tersenyum tapi apa daya? Pemilik hati tersebut sudah lelah untuk berpura-pura dikala hujan turun. Matahari pergi... Kenapa?! Pergi k...
Jika kau berniat untuk menulis maka sajak-sajak yang kau lukis akan berbekas dalam tulisanmu dan jika sajak-sajak itu tak bermakna, bukan berarti kau adalah penulis yang buruk. Tetapi keinginanmu... selalu mengabaikan tulisan orang lain serta merta merasa bahwa tulisanmu yang paling benar. - Jihan, si penulis amatir yang masih mencari 'arti' dibalik 'makna'.