Langsung ke konten utama

CERPEN : Edisi Terbatas

Edisi Terbatas

Oleh: Jihan Dhiya Ulhaq Idris

( @hujan.november & @jihandhiya )

       “Indonesia adalah sebuah negara hukum yang berbentuk kesatuan dengan pemerintahan berbentuk republik dan sistem pemerintahan presidensial dengan sifat parlementer.” Aku menyudahi bacaanku. Kuangkat kepalaku perlahan dan melihat bagaimana ekspresi ayahku di depan sana.
       “Besok, kamu harus memberikan pernyataanmu terhadap media di luar sana!” Suaranya terdengar tegas dan ia bangkit dari duduknya. 
        “Kenapa aku harus yang memberikan pernyataan?!” kali ini, aku harus membela diriku. Ini bukan salahku.
        “Partai-partai saling menjatuhkan! Kamu tidak tahu malu apa? Partai yang sedang berpihak kepada kita saat ini mendesak kita. Jika kamu tidak memberikan pernyataanmu besok. Maka, ayahmu ini terpaksa mengundurkan diri dari pencalonan gubernur!” ancamnya.
         “Tapi, aku tidak tertarik dengan politik, yah!” bantahku lagi. Sungguh, politik saat ini sedang memanas dan aku tidak ingin membiarkan diriku hangus terbakar di atas panasnya politik. Belum lagi, aksi politik saat ini sedang membara dan memburu siapa saja yang dapat dijadikan korban.
         “Kamu harus! Jika tidak, perusahaan keluarga kita akan runtuh saat ini juga!” Ayah menggebrak meja yang ada di depannya. Bungkam seribu bahasa. Pukulan telak bagiku jika sudah menyinggung perusahaan MyMedia.
         “Apakah tidak cukup dengan titel mantan CEO MyMedia? Apakah Ayah harus terjun ke dunia politik juga untuk membuktikan kekuatan keluarga kita?” tanyaku. Suaraku lirih dan mataku kini tidak sanggup menatap mata ayah yang mengkilat karena amarah.
        Helaan nafasnya terdengar panjang, “sudahlah! Urusan politik ini juga sangat penting bagi keluarga kita. Jika kamu tidak mampu mengalihkan media-media di luar sana, mereka akan memandang remeh keluarga kita! MyMedia hanyalah sebuah perusahaan untuk menghasilkan uang dan tidak bisa dijadikan alat untuk mengambil hati masyarakat. Uang saja tidak cukup, kita juga harus menguasai dunia dengan bergabung ke partai yang mendapat sogokan dari kita!” jelasnya. Setelah itu, Ayah keluar dan membanting pintu bersamaan dengan hatiku yang ketar-ketir. Anehnya, alat pendingin ruangan saat ini tidak menyala, tetapi hawa dingin mampu menusuk kulit.
          Ayahku adalah orang yang otoriter. Jika sudah menyangkut dengan apa tujuannya, baik itu anak maupun istrinya tidak mampu mengubah keputusannya mengenai hal itu juga. Sebagai anak, aku sangat menghormati ayahku jika menyangkut dengan bisnis. Tetapi, jika mempertanyakan statusnya sebagai ayah, aku belum bisa menaruh sepenuhnya kehormatan tersebut di dalam hati. Sedari dulu, Ayah mendidikku layaknya anak bangsawan. Namun, kemewahan tersebut terkadang tidak membuatku bahagia. Ayahku selalu ingin kemewahan tersebut mengikuti keluarga kami, maka bisa kupastikan segala cara akan dilakukannya demi kemewahan yang diidam-idamkan oleh orang lain.
         “Panggil Tuan Hartono untuk segera ke ruanganku sekarang!” perintahku kepada sekretaris yang mengikut di belakangku.
           “Baik, pak.” Jawabnya anggun kemudian melenggang pergi.
           Aku duduk di kursi yang dijuluki oleh karyawanku sebagai tahta keluarga Gold. Istilah yang melekat kepada keluarga kami dan tahta itu adalah pangkat tertinggi jika mengenai uang.
            Terdengar derit pintu terbuka. Bukan engselnya, tetapi monitornya berdering menandakan jika ada orang yang masuk. Hanya orang tertentu saja yang mendapat akses untuk masuk ke ruanganku saat ini.
             Tuan Hartono menunduk, “ada apa, pak?” tanyanya dengan suara serak.
          “Bisakah kamu membuat perjanjian sekarang juga kepada media pers? Katakan bahwa aku akan mengeluarkan pernyataan mengenai kasus suap besok pagi!”
            “Maaf, pak. Tapi, media pers saat ini disibukkan dengan kampanye yang dilakukan oleh partai sebelah. Maaf jika saya lancang lagi, tetapi partai sebelah hampir saja menguasai seluruh media pers yang ada di negeri ini.” Nada suaranya statis. Tuan Hartono sebagai manajer di divisi pemasaran adalah salah satu orang yang dipercayakan oleh keluargaku. Wajar saja jika ekspresinya juga sangat datar disertai intonasi suaranya, hal itu disebabkan karena Tuan Hartono sudah lama sekali mengabdi kepada keluarga kami dan bisa dikatakan sudah sangat profesional di bidangnya. Jika orang lain yang menjabat di posisinya saat ini, bisa dipastikan hati dan wajahnya sudah ketar-ketir dari tadi karena aku membentaknya. Namun, aku salut dengan Tuan Hartono, kesetiaan adalah senjata rahasianya dan orang sepertinya tidak boleh disia-siakan.
          “Kalau begitu… tolong katakan kepada divisi media cetak agar segera membuat konten yang hanya dapat diakses oleh orang tertentu saja!” tegasku. Kemudian Tuan Hartono juga membalasnya dengan kalimat, “baik, pak!”
           MyMedia adalah perusahaan yang bergerak di bidang berbagai media, baik itu media cetak ataupun media sosial. Hanya saja, saat ini yang belum mampu dikuasai sepenuhnya oleh perusahaan kami adalah media pers karena memang untuk mengungguli media pers itu sendiri, kami harus melawan partai sebelah. Partai yang tidak hanya menjadikan keluarga kami sebagai targetnya saja tetapi juga musuh bebuyutan keluargaku sejak dulu. Kekurangannya, partai sebelah hanya dapat menguasai media pers karena untuk media sosial dan media cetak itu sendiri, keluarga kami yang menginvasinya duluan. Kalau boleh kasar, tidak ada yang menandingi perusahaan kami.
            Aku melihat tumpukan berkas yang ada di depanku saat ini. Beberapa menit lalu, salah satu anggota dari tim divisi media cetak memberikan proposal mengenai rencana pengesahan model media cetak nantinya yang akan diedarkan kepada orang-orang yang berpengaruh besok pagi.
            Jari-jemariku pun mulai meneliti satu per satu berkas dan mataku tak luput dari satu huruf pun yang tertera di sana. Ini mengenai MyMedia, keluargaku dan seluruh karyawan adalah taruhannya jika rencana ini gagal. Politik membuat ambang batas ekonomi perusahaan di bawah rata-rata saat ini juga. Strategi perlu untuk mencapai tujuan yang efektif dan efisien.
            Mengenai memberikan pernyataan kepada media pers sepertinya kurang baik. Aku yakin ayah saat ini tertekan karena kasus suap-menyuap yang dilakukan keluarga kami beberapa tahun terakhir kepada partai dengan suara tertinggi yang berada di pihak kami, mulai terendus oleh awak media kecil. Tapi, bukankah sesuatu yang besar dimulai dari yang kecil? Maka, alangkah baiknya jika ayahku yang otoriter saat ini juga mungkin goyah, sehingga jika rencana A tak bisa dilaksanakan, rencana B pun jadi jaminannya.
`         Lembar akhir, kusisipkan tanda tanganku. Tidak diragukan lagi, etos kerja karyawanku memang dapat diandalkan. Bahkan, satu huruf pun tak ada yang salah. Sempurna.
           “Katakan, ini media cetak edisi terbatas.” Pintaku kepada salah satu karyawan dari divisi media cetak yang datang menemuiku. Dia baru saja naik pangkat dan berhasil menjadi salah satu orang spesial yang dapat masuk di ruanganku.
            “Kenapa anda tidak merilis media sosialnya, Pak?” tanya wanita tersebut. Baru kali ini aku melihat karyawan yang baru saja naik pangkat tetapi sudah berani bertanya yang bertentangan denganku.
            “Karena media cetak lebih mudah dijangkau oleh MyMedia. Hanya perlu mengirimkan kurir saja ke rumah yang dituju. Sedangkan untuk media sosial itu sendiri tidak memungkinkan orang berpengaruh menjangkau berita palsu dari kami. Followers mereka mungkin juga menjadi penghambat. Dan ini juga bukan untuk konsumsi publik.” Aku menatapnya sebagai isyarat mengancam.
            “Baiklah, pak. Maaf atas kelancangan saya.”
            Katakanlah bahwa keluargaku licik. Namun, aku tidak pernah mau mengikuti jejak licik dari keluarga ini. Kondisi krisis membuatku tersedak. Belum lagi ayahku saat ini terobsesi dengan jabatan politisi yang diiming-imingkan oleh 10 partai yang bersaing. Terlepas dari kuantitas, hanya 2 partai saja yang unggul dalam kualitas. Tentu saja, partai yang memihak kami adalah partai yang terkuat. Tetapi, selalu ada yang menghambat dengan berusaha menjadi musuh sejak dulu.
***
         Pagi menggeliat cerah. Senyumku terbit bak pelangi. Suasana pagi terasa sejuk dihampiri oleh burung-burung merpati yang beterbangan di atas kastil. Kastil yang menjadi saksi bisu duka dan bahagia keluarga Gold.
           Bibirku menyeruput secangkir caramel macchiato yang baru saja diseduh oleh salah satu koki ternama dari Prancis. Aku menyilangkan kakiku dan merasakan kelegaan yang luar biasa. Hari ini, majalah edisi terbatas diedarkan. Edisi terbatas yang kumaksud adalah untuk memengaruhi para politisi di luar sana agar mendukung pencalonan gubernur ayahku. Kandidat dari partai sebelah adalah kandidat terkuat saat ini. Jadi, aku harus menyiasatinya saat ini juga apalagi dengan adanya kasus suap-menyuap ini membuat kandidat sebelah tampak transparan mengungguli ayahku. Dengan edisi terbatas, aku harus meyakinkan mereka-mereka yang mau bergabung nantinya. Sehingga, mungkin saja ada yang mau dijadikan korban adu domba untuk menutupi kasus suap-menyuap ini. 
           Hari ini hari minggu. Sudah kupastikan beberapa hari lalu juga semoga edisi terbatas ini dilihat langsung oleh politisi tersebut. Kurir? Tentu saja bukan kurir biasa, beberapa security keamanan dari perusahaan sudah kami tempatkan di titik tertentu untuk mengantar majalah tersebut dan kutekankan mereka agar politisi itu tidak membawa media cetak tersebut ke kantor pihak berwajib. Masalah sepele itu nantinya hanya akan menjadi-jadi.
            Siapa yang ingin mempertanyakan keakuratan dari media cetak? Tentu saja keraguan masih ada, tetapi mereka perlu berpikir dua kali. Karena keakuratan media sosial saat ini perlu dipertanyakan. Apalagi media sosial berisi perkumpulan orang yang hanya suka berkoar-koar saja tanpa tahu kredibilitas dari sumbernya.
            Aku tahu semua ini memang salah. Menyogok politisi tersebut lagi dengan bergabung dipartai yang mendukung ayahku? Menutupi kasus suap keluargaku? Tapi, sebagai anak apalagi yang harus kulakukan? Keluarga Gold sampai sekarang terkenal dengan kekayaannya selama 15 tahun terakhir. Kastil ini tidak dapat dirobohkan oleh siapa pun, bahkan orang-orang di luar sana mengatakan bahwa kastil ini adalah bukti peradaban negara. Ini adalah rumahku. Selain itu, kekayaan yang ada di dalamnya sudah memanjakanku dari dulu.
            Setelah aku memakai setelan jas untuk menikmati kegembiraan atas rencanaku yang akan berhasil nantinya, aku terkejut! Bagaimana tidak? setelah aku menggesek kartu di monitor untuk membuka pintu kamarku, terlihat beberapa orang dari kantor pengadilan menungguku di depan sana. “Maaf, pak. Kami dari kantor pengadilan ingin memeriksa seluruh kastil ini. Keluarga yang terlibat termasuk anda dan ayah anda akan kami tahan selama 24 jam untuk diinvestigasi mengenai kasus suap-menyuap yang telah dilakukan selama beberapa tahun terakhir.” Salah satu petugas hukum pengadilan yang datang menunjukkan surat bukti penangkapan kepadaku.
          “Apa buktinya?!” belaku.
          “Karyawan anda yang baru saja naik pangkat dari divisi media cetak melaporkan hal ini kepada kami. Sekadar informasi saja untuk bapak, karyawan tersebut adalah mata-mata dan sudah kami tangkap juga.” Ia memborgol tanganku.
            Bagaimana dengan majalah edisi terbatas nantinya? Apakah berjalan lancar?
        “Sebelum diedarkan, edisi terbatas sudah kami bekukan.” Ujarnya seakan mampu membaca pikiranku.

Pinrang, 24 Februari 2019
6.33 PM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi: Sebelah Mata

Sebelah Mata by: Jihan Dhiya Ulhaq Idris (Po-Rain) Dia... Memandangku dengan sebelah mata Terpatri keirian begitu berkobar Seakan matanya ingin mendusta Tangisan... Berguna untuk jiwa ragaku Walaupun kau meremehkan Bahkan, memandangku sebelah mata Terluka... Menghilang begitu saja Terbekas dalam jiwa Hingga menusuk dada Mereka... Tak tahu lagi apa tutur kataku Hanya memandang sebelah mata Tak berarti aku dalam potret mereka Takkan kubiarkan... Sebelah mata itu menyayat Menghancurkan serta merta Mimpi dalam genggaman tanganku Berhenti sesaat... Lupakan! Tapi tak apa! Begitu halus namun sakit Apa daya tubuh mungil ini Tergores jiwaku oleh sebelah mata Begitu jelas... Membekas... Untuk selamanya... Kupandang mereka... Apa yang harus kuperbuat? Apa aku begitu hina? Hingga memandangku sebelah mata? Lisan sunyi walau hidup... Duka jelas begitu terasa... Terlena hidup dalam kerapuhan... Tak terasa air mata menetes Pertanyaan-pertanyaan berdatangan Namun ...

10 Konsep Esensial Geografi (Pengertian dan contohnya)

Apa sih konsep esensial geografi itu? Terus contoh-contohnya apa? Jadi, konsep esensial geografi itu adalah konsep dasar bagi perkembangan geogragi. Bisa juga dikatakan sebagai study dalam mempelajari geografi. Nah, sebelum membahas apa itu konsep esensial geografi. Udah pada tau gak nih pengertian dari geografi? Nah gue jelaskan ya dari pengertian umumnya. Jadi, menurut semlok (seminar dan lokakarya) Ikatan Geografi Indonesia (IGI) di Semarang pada tahun 1998 menyimpulkan bahwa geografi adalah ilmu yang mempelajari tentang persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan dan kewilayahan dalam konteks keruangan. Sedangkan menurut gue pribadi, geografi itu mengajarkan segala sesuatu yang berkaitan dengan peristiwa di bumi. Konsep esensial geografi ini ada 10, yaitu: 1. Konsep Lokasi Konsep lokasi adalah konsep tentang letak suatu tempat atau fenomena di muka bumi ini. Konsep lokasi ini bahkan terbagi menjadi dua, yaitu lokasi absolut dan lokasi relatif....

Aku tidak ingin PACARAN. Alasannya?

Assalamualaikum... Slogan remaja sekarang "Nggak jaman kali kalau NGGAK pacaran" Nggak jaman? hahaha lucu. Kenapa? Jadi, hamil diluar nikah itu jaman ya sekarang? Kan pacarannya nggak ngapa-ngapain. Iya, tapi jamin besoknya bakalan gimana? ...... Mirisnya, ketika awal dari pacaran dimulai memang nggak ngapa-ngapain tapi semakin jauh hari pasti ngapa-ngapain karna jika kita berhasil dari godaan setan yang pertama alhasil juga godaan setan yang kedua dan seterusnya akan berhasil. Pacaran yang awalnya nggak ngapa-ngapain dan itu jebakan setan malah jadi ngapa-ngapain. Maraknya, sekarang banyaknya kondisi hamil diluar nikah yang bahkan menghancurkan masa depan. Saya sendiri jujur, dulu pengen banget merasakan yang namanya pacaran. Dulu, saya iri sama teman-teman yang pacaran bahkan bikin saya baper tapi, Alhamdulillah... Allah selalu melindungi hamba-Nya ini dari godaan setan. Saya bilang begitu karna memang dasarnya pacaran itu terkesan main-main dan jika itupun saya in...