“Indonesia
adalah sebuah negara hukum yang berbentuk kesatuan dengan pemerintahan
berbentuk republik dan sistem pemerintahan presidensial dengan sifat
parlementer.” Aku menyudahi bacaanku. Kuangkat kepalaku perlahan dan melihat
bagaimana ekspresi ayahku di depan sana.
“Besok, kamu harus memberikan
pernyataanmu terhadap media di luar sana!” Suaranya terdengar tegas dan ia
bangkit dari duduknya.
“Kenapa aku harus yang memberikan
pernyataan?!” kali ini, aku harus membela diriku. Ini bukan salahku.
“Partai-partai saling menjatuhkan!
Kamu tidak tahu malu apa? Partai yang sedang berpihak kepada kita saat ini
mendesak kita. Jika kamu tidak memberikan pernyataanmu besok. Maka, ayahmu ini terpaksa
mengundurkan diri dari pencalonan gubernur!” ancamnya.
“Tapi, aku tidak tertarik dengan
politik, yah!” bantahku lagi. Sungguh, politik saat ini sedang memanas dan aku
tidak ingin membiarkan diriku hangus terbakar di atas panasnya politik. Belum
lagi, aksi politik saat ini sedang membara dan memburu siapa saja yang dapat
dijadikan korban.
“Kamu harus! Jika tidak, perusahaan
keluarga kita akan runtuh saat ini juga!” Ayah menggebrak meja yang ada di
depannya. Bungkam seribu bahasa. Pukulan telak bagiku jika sudah menyinggung
perusahaan MyMedia.
“Apakah tidak cukup dengan titel
mantan CEO MyMedia? Apakah Ayah harus terjun ke dunia politik juga untuk
membuktikan kekuatan keluarga kita?” tanyaku. Suaraku lirih dan mataku kini
tidak sanggup menatap mata ayah yang mengkilat karena amarah.
Helaan nafasnya terdengar panjang,
“sudahlah! Urusan politik ini juga sangat penting bagi keluarga kita. Jika kamu
tidak mampu mengalihkan media-media di luar sana, mereka akan memandang remeh
keluarga kita! MyMedia hanyalah sebuah perusahaan untuk menghasilkan uang dan
tidak bisa dijadikan alat untuk mengambil hati masyarakat. Uang saja tidak
cukup, kita juga harus menguasai dunia dengan bergabung ke partai yang mendapat
sogokan dari kita!” jelasnya. Setelah itu, Ayah keluar dan membanting pintu
bersamaan dengan hatiku yang ketar-ketir. Anehnya, alat pendingin ruangan saat
ini tidak menyala, tetapi hawa dingin mampu menusuk kulit.
Ayahku adalah orang yang otoriter.
Jika sudah menyangkut dengan apa tujuannya, baik itu anak maupun istrinya tidak
mampu mengubah keputusannya mengenai hal itu juga. Sebagai anak, aku sangat
menghormati ayahku jika menyangkut dengan bisnis. Tetapi, jika mempertanyakan
statusnya sebagai ayah, aku belum bisa menaruh sepenuhnya kehormatan tersebut
di dalam hati. Sedari dulu, Ayah mendidikku layaknya anak bangsawan. Namun,
kemewahan tersebut terkadang tidak membuatku bahagia. Ayahku selalu
ingin kemewahan tersebut mengikuti keluarga kami, maka bisa kupastikan segala cara
akan dilakukannya demi kemewahan yang diidam-idamkan oleh orang lain.
“Panggil Tuan Hartono untuk segera
ke ruanganku sekarang!” perintahku kepada sekretaris yang mengikut di
belakangku.
“Baik, pak.” Jawabnya anggun
kemudian melenggang pergi.
Aku duduk di kursi yang dijuluki
oleh karyawanku sebagai tahta keluarga Gold. Istilah yang melekat kepada
keluarga kami dan tahta itu adalah pangkat tertinggi jika mengenai uang.
Terdengar derit pintu terbuka. Bukan
engselnya, tetapi monitornya berdering menandakan jika ada orang yang masuk.
Hanya orang tertentu saja yang mendapat akses untuk masuk ke ruanganku saat
ini.
Tuan Hartono menunduk, “ada apa,
pak?” tanyanya dengan suara serak.
“Bisakah kamu membuat perjanjian
sekarang juga kepada media pers? Katakan bahwa aku akan mengeluarkan pernyataan
mengenai kasus suap besok pagi!”
“Maaf, pak. Tapi, media pers saat
ini disibukkan dengan kampanye yang dilakukan oleh partai sebelah. Maaf jika
saya lancang lagi, tetapi partai sebelah hampir saja menguasai seluruh media
pers yang ada di negeri ini.” Nada suaranya statis. Tuan Hartono sebagai
manajer di divisi pemasaran adalah salah satu orang yang dipercayakan oleh
keluargaku. Wajar saja jika ekspresinya juga sangat datar disertai intonasi
suaranya, hal itu disebabkan karena Tuan Hartono sudah lama sekali mengabdi kepada keluarga kami
dan bisa dikatakan sudah sangat profesional di bidangnya. Jika orang lain yang
menjabat di posisinya saat ini, bisa dipastikan hati dan wajahnya sudah
ketar-ketir dari tadi karena aku membentaknya. Namun, aku salut dengan Tuan
Hartono, kesetiaan adalah senjata rahasianya dan orang sepertinya tidak
boleh disia-siakan.
“Kalau begitu… tolong katakan kepada
divisi media cetak agar segera membuat konten yang hanya dapat diakses oleh
orang tertentu saja!” tegasku. Kemudian Tuan Hartono juga membalasnya dengan
kalimat, “baik, pak!”
MyMedia adalah perusahaan yang
bergerak di bidang berbagai media, baik itu media cetak ataupun media sosial.
Hanya saja, saat ini yang belum mampu dikuasai sepenuhnya oleh perusahaan kami
adalah media pers karena memang untuk mengungguli media pers itu sendiri, kami
harus melawan partai sebelah. Partai yang tidak hanya menjadikan keluarga kami
sebagai targetnya saja tetapi juga musuh bebuyutan keluargaku sejak dulu.
Kekurangannya, partai sebelah hanya dapat menguasai media pers karena
untuk media sosial dan media cetak itu sendiri, keluarga kami yang
menginvasinya duluan. Kalau boleh kasar, tidak ada yang menandingi perusahaan kami.
Aku melihat tumpukan berkas yang ada
di depanku saat ini. Beberapa menit lalu, salah satu anggota dari tim divisi
media cetak memberikan proposal mengenai rencana pengesahan model media cetak
nantinya yang akan diedarkan kepada orang-orang yang berpengaruh besok pagi.
Jari-jemariku pun mulai meneliti
satu per satu berkas dan mataku tak luput dari satu huruf pun yang tertera di
sana. Ini mengenai MyMedia, keluargaku dan seluruh karyawan adalah taruhannya
jika rencana ini gagal. Politik membuat ambang batas ekonomi perusahaan di
bawah rata-rata saat ini juga. Strategi perlu untuk mencapai tujuan yang efektif dan efisien.
Mengenai memberikan pernyataan
kepada media pers sepertinya kurang baik. Aku yakin ayah saat ini tertekan
karena kasus suap-menyuap yang dilakukan keluarga kami beberapa tahun terakhir kepada partai dengan suara
tertinggi yang berada di pihak kami, mulai terendus oleh awak media kecil. Tapi,
bukankah sesuatu yang besar dimulai dari yang kecil? Maka, alangkah baiknya
jika ayahku yang otoriter saat ini juga mungkin goyah, sehingga jika rencana A tak
bisa dilaksanakan, rencana B pun jadi jaminannya.
` Lembar akhir, kusisipkan tanda
tanganku. Tidak diragukan lagi, etos kerja karyawanku memang dapat diandalkan.
Bahkan, satu huruf pun tak ada yang salah. Sempurna.
“Katakan, ini media cetak edisi
terbatas.” Pintaku kepada salah satu karyawan dari divisi media cetak yang datang
menemuiku. Dia baru saja naik pangkat dan berhasil menjadi salah satu orang
spesial yang dapat masuk di ruanganku.
“Kenapa anda tidak merilis media
sosialnya, Pak?” tanya wanita tersebut. Baru kali ini aku melihat karyawan yang
baru saja naik pangkat tetapi sudah berani bertanya yang bertentangan denganku.
“Karena media cetak lebih mudah
dijangkau oleh MyMedia. Hanya perlu mengirimkan kurir saja ke rumah yang
dituju. Sedangkan untuk media sosial itu sendiri tidak memungkinkan orang
berpengaruh menjangkau berita palsu dari kami. Followers mereka mungkin juga menjadi penghambat. Dan ini juga
bukan untuk konsumsi publik.” Aku menatapnya sebagai isyarat mengancam.
“Baiklah, pak. Maaf atas
kelancangan saya.”
Katakanlah bahwa keluargaku licik.
Namun, aku tidak pernah mau mengikuti jejak licik dari keluarga ini. Kondisi
krisis membuatku tersedak. Belum lagi ayahku saat ini terobsesi dengan jabatan
politisi yang diiming-imingkan oleh 10 partai yang bersaing. Terlepas dari
kuantitas, hanya 2 partai saja yang unggul dalam kualitas. Tentu saja, partai
yang memihak kami adalah partai yang terkuat. Tetapi, selalu ada yang menghambat
dengan berusaha menjadi musuh sejak dulu.
***
Pagi
menggeliat cerah. Senyumku terbit bak pelangi. Suasana pagi terasa sejuk dihampiri
oleh burung-burung merpati yang beterbangan di atas kastil. Kastil yang menjadi
saksi bisu duka dan bahagia keluarga Gold.
Bibirku menyeruput secangkir caramel macchiato yang baru saja diseduh oleh salah satu koki ternama dari Prancis. Aku
menyilangkan kakiku dan merasakan kelegaan yang luar biasa. Hari ini, majalah
edisi terbatas diedarkan. Edisi terbatas yang kumaksud adalah untuk
memengaruhi para politisi di luar sana agar mendukung pencalonan gubernur
ayahku. Kandidat dari partai sebelah adalah kandidat terkuat saat ini. Jadi,
aku harus menyiasatinya saat ini juga apalagi dengan adanya kasus suap-menyuap ini
membuat kandidat sebelah tampak transparan mengungguli ayahku. Dengan edisi terbatas, aku
harus meyakinkan mereka-mereka yang mau bergabung nantinya. Sehingga, mungkin
saja ada yang mau dijadikan korban adu domba untuk menutupi kasus suap-menyuap
ini.
Hari ini hari minggu. Sudah
kupastikan beberapa hari lalu juga semoga edisi terbatas ini dilihat langsung
oleh politisi tersebut. Kurir? Tentu saja bukan kurir biasa, beberapa security keamanan dari perusahaan sudah
kami tempatkan di titik tertentu untuk mengantar majalah tersebut dan
kutekankan mereka agar politisi itu tidak membawa media cetak tersebut ke
kantor pihak berwajib. Masalah sepele itu nantinya hanya akan menjadi-jadi.
Siapa yang ingin mempertanyakan
keakuratan dari media cetak? Tentu saja keraguan masih ada, tetapi mereka perlu
berpikir dua kali. Karena keakuratan media sosial saat ini perlu dipertanyakan.
Apalagi media sosial berisi perkumpulan orang yang hanya suka berkoar-koar saja
tanpa tahu kredibilitas dari sumbernya.
Aku tahu semua ini memang salah.
Menyogok politisi tersebut lagi dengan bergabung dipartai yang mendukung
ayahku? Menutupi kasus suap keluargaku? Tapi, sebagai anak apalagi yang harus kulakukan?
Keluarga Gold sampai sekarang terkenal dengan kekayaannya selama 15 tahun
terakhir. Kastil ini tidak dapat dirobohkan oleh siapa pun, bahkan orang-orang di luar sana mengatakan bahwa kastil ini adalah bukti peradaban negara. Ini adalah rumahku. Selain
itu, kekayaan yang ada di dalamnya sudah memanjakanku dari dulu.
Setelah aku memakai setelan jas
untuk menikmati kegembiraan atas rencanaku yang akan berhasil nantinya, aku
terkejut! Bagaimana tidak? setelah aku menggesek kartu di monitor untuk membuka pintu kamarku, terlihat
beberapa orang dari kantor pengadilan menungguku di depan sana. “Maaf, pak.
Kami dari kantor pengadilan ingin memeriksa seluruh kastil ini. Keluarga yang
terlibat termasuk anda dan ayah anda akan kami tahan selama 24 jam untuk
diinvestigasi mengenai kasus suap-menyuap yang telah dilakukan selama beberapa
tahun terakhir.” Salah satu petugas hukum pengadilan yang datang menunjukkan surat bukti
penangkapan kepadaku.
“Apa buktinya?!” belaku.
“Karyawan anda yang baru saja naik
pangkat dari divisi media cetak melaporkan hal ini kepada kami. Sekadar
informasi saja untuk bapak, karyawan tersebut adalah mata-mata dan sudah kami
tangkap juga.” Ia memborgol tanganku.
Bagaimana dengan majalah edisi terbatas nantinya? Apakah berjalan
lancar?
“Sebelum diedarkan, edisi terbatas
sudah kami bekukan.” Ujarnya seakan mampu membaca pikiranku.
Pinrang, 24 Februari 2019
6.33 PM
Komentar
Posting Komentar
Syarat berkomentar:
*Berkomentarlah dengan unsur yang tidak mengandung kontroversi
*Berkomentarlah sesuai konten yang dibahas