Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...
Apa kabar semuanya?Seingatku, sudah setahun lalu aku merubah penampilanku. Kalau bisa dibilang hijrah, okelah, but... its not even full & still, im on my process (baca; istiqomah). Aku baru sadar ternyata aku belum pernah nulis atau curhat perihal hijrah di blog pribadiku ini. Padahal, aku sudah mempublikasikan kisahku ini di platform menulis yang lain.
Kenapa aku nulis ini? Aku berharap semoga semua yang aku tumpahkan melalui tulisan (karena sebenarnya aku tidaklah lihai menuangkan kisahku dalam lisan) mengenai kisahku ini, bisa menjadi inspirasi dan motivasi kepada teman-teman semua, terutama seorang muslimah yang mengklaim dirinya sebagai seorang fangirl yang akut! (nah, loh?!)
Sebelumnya, aku teringat sama pepatah kalau hijrah itu gampang, istiqomah itu yang susah. Oke, I agree with that statement.
Banyak orang yang bilang: hijrah itu susah! Gue takut ah nanti kalau hijab syar'i, terus kelakuan nggak mencerminkan penampilan. Makanya, gue mau perbaiki akhlak gue dulu baru penampilan gue.
And... Actually I disagree with this.
Kenapa kita harus menghubungkan dua hal yang sepenuhnya berbeda? Akhlak & hijab? Yang satu kewajiban dari Allah SWT. dan satunya lagi perilaku dari manusia itu sendiri. Orang-orang yang tidak bisa menerima ini pasti bilang: lah gue udah berhijab kok, rambut gue udah tertutup, aurat gue juga udah ketutup.
Yakin udah tertutup? Apakah seyakin-yakin mata yang lain memandang bahwa aurat kita ini sebenarnya memang tertutup atau hanya terbungkus/terbalut oleh kain? Mungkin kita pribadi yakin bahwa aurat kita tertutup tapi belum tentu kalau lawan jenis yang bukan mahram yakin akan hal tersebut. Semisal kita memakai jeans, aurat kita sih memang udah tertutup (menurut yang memakai) tapi apakah menjamin lekukan tubuh itu tidak menggoda syahwat mereka (yang bukan mahram)? Karena jeans sebenarnya hanya membalut bukan menutup!
Kenapa kita tidak berpikir lebih jauh, kalau hijab itu bukan untuk tabarruj tapi untuk melindungi diri ini dari fitnah-fitnah dunia yang benar-benar menyesatkan! Dosa jariyah ganjarannya! Dosa yang nggak bakalan pernah terputus bahkan jika kita tidak melakukannya lagi. Lantas, betapa tidak tahu malunya kita, menentang perintah Allah padahal perintah menutup aurat ini sebenarnya demi kebaikan kita sendiri. Betapa sayangnya Allah SWT. kepada kita. Lantas, kita yang terlalu menyayangi dunia fana ini melebihi kecintaan kita kepada Allah SWT. Mari kita beristighfar...
Kapan kita meninggal? tidak ada yang tahu! Hanya Allah yang tahu. Jadi teringat kata Kak Kartika Putri yang memantapkan dirinya untuk lebih dekat kepada Allah SWT bahwa dirinya bermimpi meninggal dan ia hanya memakai dress yang cantik. Kemudian yang datang melayat juga orang-orang yang memakai dress! Merinding mendengarnya. Maha Besar Allah yang sudah menegur kita melalui hadits "Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Abu Daud dan Ahmad).
Memang betul bahwa lingkungan membawa pengaruh besar dalam kehidupan kita. Rutinitas, sosial, ekonomi dan budaya, itu semua dipengaruhi oleh lingkungan. Tidak heran jika ada orang yang mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada orang yang jahat, hanya saja mereka yang jahat berada di situasi yang salah. Itulah mengapa situasi yang salah ini kita artikan sebagai ujian. Kalau kita terlena sama ujian itu sendiri, kita akan dicap sebagai orang jahat bukan? Maka sesungguhnya jika kita mau masuk surga, kalau perlu surga firdaus, apakah mudah? nggak, nggak semudah itu! Banyak ujian dan cobaan yang perlu kita hadapi, sampai-sampai iman kita ini diuji selayaknya rollercoaster. Bahkan... aku iri sama mereka yang benar-benar memprioritaskan akhirat daripada dunia. Mereka adalah orang-orang asing, yang bahkan dunia saja tidak mau melihat orang-orang asing tersebut karena sebenarnya orang-orang asing itu memiliki derajat yang lebih tinggi daripada dunia. Mereka rela mengorbankan dunia ini. Mereka mungkin kehilangan segalanya di dunia ini, tapi Allah SWT sudah menjanjikan hal yang jauh lebih baik di akhirat kepada orang-orang asing tersebut. “Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntunglah orang yang asing.” (HR. Muslim no. 145).
Fenomena sosial yang baru saja terjadi yaitu teror di sebuah gereja di Surabaya hingga membuat beberapa orang ketakutan. Bahkan berdampak kepada saudari-saudari kita yang bercadar di luar sana. Lihat di sosmed, ada seorang muslimah yang bercadar dipaksa turun oleh penumpang bus karena mereka takut. Apakah seperti itukah stigma masyarakat sekarang kepada Islam? Indonesia yang notabene adalah mayoritas masyarakatnya Islam bahkan tidak mencerminkan keislaman tersebut terhadap toleransi di dalam kehidupan kita sehari-hari. Islam adalah agama yang damai. Hanya orang awam yang tidak tahu hal ini. Buktinya? kita bahkan dilarang bersentuhan dengan yang bukan mahram. Ini semata-mata karena Allah ingin agar umatnya terlindungi fitnah yang menyebabkan dosa, Allah ingin agar umatnya itu menjadi orang yang terhormat dan orang yang terhormat memiliki derajat yang tinggi di sisi-Nya. Masya Allah...
Aku tidak tahu kapan tepatnya aku memutuskan ini. Tapi, sebelum aku menjemput hidayah yang sudah datang jauh-jauh hari, percayalah bahwa sebenarnya diriku yang berstatus Islam ini memiliki pola pikir seperti liberalisme. Bebas-sebebasnya! Aku ingat dulu aku seringkali fangirl-ing bersama teman-temanku. SMP Kelas 7 & 8, masa itu adalah masa emasnya One Direction dan Justin Bieber. Aku suka musik mereka, benar-benar bikin joget-joget deh. Bahagia? iya. Tapi sebenarnya kebahagiaan seperti itu bukanlah kebahagiaan yang sejati. Memiliki idola seperti mereka yang pandai bermusik dan tampan tidak menutup kemungkinan diriku ini juga berpikir seperti mereka. Mereka baik, tapi sesungguhnya kafir. Kenapa? mereka baik karena membuat penggemar mereka senang, memotivasi mereka melalui musik mereka, tapi sesungguhnya dibalik itu semua, dibalik putih selalu ada hitam. Abu-abu. Kita hanya melihat dari sisi mereka.
Baiklah, mereka membuat kita rajin menabung demi membeli album-album, poster, majalah, merchandise tentang mereka. Tapi, sadarkah kita bahwa uang yang setengah mati kita tabung tersebut hanya berfaedah untuk diri kita pribadi dan idola tersebut? Tidakkah kita berpikir bahwa uang tersebut sebenarnya bermanfaat untuk dunia dan akhirat? Kita bersedekah kepada orang yang membutuhkan, mereka tersenyum dan bukankah itu kebahagiaan yang sebenarnya di dunia? Bahkan manfaatnya mengalir sampai ke akhirat. Karena seringkali sibuk akan aktivitas fangirling, kita memang terhindar dari pergaulan bebas. Tapi, sadarkah kita karena aktivitas tersebut kita malah melalaikan sholat?
Kenyataannya sewaktu SMP, aku selalu menunggu timing yang pas. Pokoknya waktu itu selalu bilang: aku belum siap. Ilmu agama juga masih dikit. Nikmati aja dulu masa muda. Bukankah pola pikir seperti ini terjerumus ke dalam hal yang liberal? Forever Young. Young, Wild & Free. Slogan-slogan seperti itulah yang merusak akidah. Banyak orang menganggap slogan tersebut adalah motivasi. Nyatanya di dalam Islam, tidak ada masa muda dibiarkan terbuang sia-sia dengan kebebasan duniawi. "Allah menyukai orang tua yang beriman, tapi Allah lebih menyukai pemuda yang beriman.."
Dan, sebagai seorang fangirl sampai sekarang. Satu perkara yang belum bisa membuatku hijrah sepenuhnya. Layaknya seorang yang sakau akan narkoba, fangirl masih mendarah daging layaknya candu. Belum bisa kutinggalkan sepenuhnya walau penampilan ini sudah berubah sepenuhnya. Ibarat aku ini dalam masa rehabilitasi. Perlahan...
(Dilanjutkan di Part II)
masya allah
BalasHapusmasya allah
BalasHapus